Salah satu kesulitan bagi saya saat migrasi ke Linux adalah menentukan Editor yang cocok dengan saya. Karena dilingkungan Windows saya menggunakan PSPad sebagai Text editor mancari program pengganti yang cocok bagi saya sangat diperlukan. Walaupun bisa menggunakan emulator Wine namun sebisa mungkin saya mengurangi ketergantungan dengan Wine kecuali untuk kasus-kasus tertentu.
Setelah mencoba beberapa editor di linux, diantaranya adalah GVIM, Nano, Gedit, Screem, Bluefish, GPHPedit, Jedit dan juga Komodo akhirnya saya lebih menyukai menggunakan Komodo dan Screem.
Sayangnya kelemahan editor Komodo adalah berat ketika diload. Jadi untuk preview code secara lebih cepat saya menggunakan Gvim atau Screem. Sebenarnya saya juga menyukai editor gvim namun bagi seorang pemula seperti saya penggunaan shortcut di Gvim sedikit merepotkan saya yang agak sudah terbiasa menggunakan mouse.
Emacs?? terus terang belum saya coba.. karena seperti vim, editor ini juga lebih banyak menggunakan shortcut dalam penggunaannya. Jadi kesimpulannya saya sekarang menggunakan editor Komodo dan tentu saja tetap menggunakan editor yang lain sesuai dengan kebutuhannya. Jika ingin membuat project program baru saya menggunakan Komodo namun untuk mengedit secara cepat lebih baik gunakan GVim atau screem saja.
Sekarang kembali ke….. Laptop


Februari 3, 2009 pukul 10:03 pm
screem saya suka hang, knapa ya, tlg dong solusinya